D.Pemimpin Pemberi Solusi

Jumat, 09 Oktober 2015, 16:56 WIB

Komentar : 0
4shared.com
Meneladani Rasulullah SAW.
Meneladani Rasulullah SAW.

Oleh: Imam Nur Suharno

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Suatu hari, ada seseorang dari golongan Anshar yang datang meminta sesuatu kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW lantas bertanya kepada orang tersebut, “Adakah sesuatu di rumahmu?” Ia menjawab, “Ada, yaitu hamparan yang sebagian kami pakai dan sebagian lagi kami hamparkan, dan juga wadah yang kami pergunakan untuk minum.”

Kata Nabi SAW, “Bawalah olehmu kepadaku dua benda itu.” Lalu, orang tersebut menyerahkannya kepada Nabi SAW. Lalu, Rasulullah menawarkan barang tersebut kepada para sahabatnya, “Siapa yang akan membeli dua barang ini?”

Seseorang berkata, “Saya akan membelinya dengan satu dirham.” Kata Nabi SAW, “Siapa yang akan menambah lebih dari dari satu dirham?” Pertanyaan itu diulang sampai tiga kali. Seseorang berkata, “Aku akan membelinya dengan dua dirham.”  Lalu, Rasulullah memberikan barang itu kepada orang itu dan mengambil uang dua dirham, dan langsung diberikannya kepada seorang Anshar tadi.

Nabi SAW berkata, “Belikanlah dengan salah satu dirham ini makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Kemudian, belikan dengan dirham yang satunya lagi kapak, lalu bawa kapak itu kepadaku.” Lalu, Rasulullah mengikatkan kayu sambil berkata kepadanya, “Pergilah, carilah kayu bakar dan juallah. Dan, kau jangan memperlihatkan diri kepadaku selama lima belas hari.”

Kemudian, laki-laki tadi mengambil kayu bakar dan menjualnya. Setelah lima belas hari, ia datang kepada Nabi dan telah memiliki sepuluh dirham. Sebagiannya ia belikan pakaian dan sebagiannya lagi dibelikan makanan.

Rasulullah SAW bersabda, “Ini semua lebih baik bagimu daripada kau datang meminta-minta yang menjadi noda pada wajahmu di hari kiamat nanti. Sesungguhnya meminta-minta itu tidaklah pantas, kecuali bagi tiga orang: orang yang sangat fakir, orang yang mempunyai utang yang memberatkannya, atau orang yang harus membayar diat.”

Itulah keteladanan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW sebagai seorang pemimpin. Beliau memberikan solusi, bukan sekadar janji. Sikap seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin di negeri ini.

Seorang pemimpin hendaknya memiliki kepedulian dan perhatian kepada masyarakat yang dipimpinnya. Selain itu, ia juga harus memiliki kemampuan memotivasi, membantu, mengakomodasi, menyingkap potensi orang-orang yang dipimpinnya, dan memberdayakannya untuk kepentingan mereka.

Ketahuilah bahwa, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pemimpin negara yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang lelaki/suami adalah pemimpin bagi keluarganya, ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Wanita/istri adalah pemimpin terhadap keluarga suaminya dan anak suaminya, dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah menganugerahkan kepada para pemimpin di negeri ini kemampuan untuk menjaga amanah kepemimpinan yang diembannya. Semoga.

SUMBER: REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s